Jenis Jahitan Berdasarkan Standar ISO

by | Mar 1, 2023 | Blog

Dalam dunia konveksi, garmen, dan industri sejenisnya ada banyak sekali jenis-jenis jahitan. Setiap jenis jahitan memiliki polanya sendiri-sendiri. Masing-masing jahitan tersebut juga memiliki  karakteristik, kelebihan, dan kegunaannya sendiri.

Mesin dan teknik menjahit yang digunakan pun berbeda. Sebelum mulai menjahit atau membuat suatu pakaian khusus, pastikan kamu sudah mengenali jenis jahitannya.

Berikut ini pembahasan seputar jenis-jenis jahitan yang harus kamu ketahui:

Jenis-Jenis Jahitan Sesuai Polanya

Setiap kategori mesin jahit akan menghasilkan jenis-jenis jahitan tertentu. Hal ini sangat bergantung pada jumlah jarum, pemotong, serta benang yang digunakan untuk memproses jahitan. Pengaturan ketiganya inilah yang juga dikenal sebagai stitch (jeratan) dan tiap stitch akan dikelompokkan kembali berdasarkan karakteristik utamanya.

Dalam prakteknya, secara umum ada 70+ jenis jahitan. Namun, hanya ada 18-20 jahitan yang digunakan dalam industri manufaktur dan garmen. Jika tujuan utamanya hanya menjahit saja, tanpa terlalu memikirkan hal lainnya. Maka, hanya ada 3 jenis jahitan yang umum digunakan.

Sementara itu, menurut ISO 4915-1981, stitch dapat dibedakan menjadi 6 kelas. Mulai dari kelas 100, 200, 300, 400, 500, dan 600. Nah, yang akan kita bahas kali ini adalah jenis stitch atau jahitan berdasarkan standar ISO 4915-1891. Berikut ini penjelasan lebih lanjutnya:

Kelas 100- Single Need Chain Stitch/ Jahitan Rantai

Di kelas 100, ada jahitan rantai atau yang kerap disebut sebagai single need chain stitch. Jenis jahitan yang terbentuk dari 1 atau lebih jarum dengan metode jahit intralooping. Jadi, 1 atau lebih loop benang jarum akan dilewatkan melalui kain. Kemudian, benang tersebut diamankan dengan cara dilingkarkan ke loop berikutnya.

Jenis jahitan di kelas 100 ini sederhana & banyak digunakan. Meskipun begitu, jahitan rantai ini kurang aman karena semua jahitannya tersambung. Setiap loop akan tergantung pada loop berikutnya, otomatis jika ada 1 benang putus seluruh jahitan juga akan terpisah.

Bentuk stitch ini juga terbagi menjadi beberapa sub kelas, seperti: 101 (Chainstitch Benang Tunggal) dan 103 (Blind Stitch).

Dari bentuknya, jahitan rantai sekilas terlihat mirip dengan lockstitch di sisi depan dengan loop di sisi belakang.

Keuntungan: hasil jahitan yang lebih elastis. Cocok diterapkan pada bagian pakaian yang butuh sedikit peregangan seperti di bagian pita leher belakang pada kaos.

Kelemahan: memiliki kekuatan yang lemah. Jika kamu menarik salah satu ujung benang, maka seluruh jahitan akan terbuka.

Kelas 200: Hand Stitch (Jahitan Tangan)

Biasanya lebih sering dilakukan untuk tujuan dekoratif. Hand stitch dibentuk oleh benang jahit tunggal, jahitannya dipegang di salah satu sisi garis benang yang dilewatkan dari 1 sisi ke sisi kain lainnya. Jenis-jenis jahitan ini lebih banyak digunakan untuk jahitan kasual dengan jarum jahit dan benang yang sederhana. Sering juga ditemukan sebagai topstitch di industri garmen karena hasil akhirnya yang bagus.

Hand stitch juga bisa digunakan di mesin jahit berjenis pick stitch, namun cukup jarang digunakan karena lambat dan tidak efisien dari segi waktu. Untuk penggunaan jenis jahitan ini biasanya di bagian kerah jaket, mantel, ataupun pakaian-pakaian mahal.

Kelemahan utama: pengerjaan lambat dan biaya operasional yang lebih tinggi. Jadi, kurang efisien untuk industri skala besar yang mengutamakan kecepatan produksi.

Kelas 300: Lock Stitch (Jahitan Kunci)

Jenis-jenis jahitan ketiga adalah Lockstitch, merupakan jenis jahitan yang paling umum digunakan di industri garmen. Jahitan ini terbentuk ketika sebuah benang dimasukkan ke salah satu sisi bahan untuk saling terkait dengan benang yang dimasukkan dari sisi lainnya. Jadi, posisi kedua benang tersebut saling mengunci.

Keunggulan: jahitannya kuat dan sulit terurai. Cocok diterapkan pada berbagai jenis bahan jahitan. Membuat kedua sisi jahitan terlihat sama sehingga lebih rapi. Selain itu, tusukannya juga lebih stabil dibandingkan tusukan rantai.

Kelemahan: tidak cocok digunakan untuk menjahit kain rajut. Selain itu, pergantian benang gelendongnya juga cukup sering.

Kelas 400- Multi Thread Chain Stitch (Jahitan Rantai Benang Ganda)

Dalam jahitan jenis ini, loop yang terbentuk dalam 1 set benang jahit akan dilewatkan melalui kain. Kemudian, loop ini akan ditahan menggunakan sistem interloping & interlacing dengan loop yang terbentuk oleh set benang lain (benang looper).

Jenis jahitan ini akan tampak seperti jahitan lockstitch di bagian depan, namun memiliki efek rantai ganda dibagian belakang berkat adanya benang looper.

Keuntungan:

  • Jahitan lebih kuat karena kedua benang tidak saling mengunci.
  • Jenis-jenis jahitan ini juga mampu meminimalisir terjadinya kerutan pada kain.
  • Mesin yang menghasilkan jenis jahitan ini bergerak jauh lebih cepat dibandingkan mesin lockstitch, yakni di kecepatan 8000 rpm.
  • Memiliki tingkat kelenturan yang sama dengan tusuk kunci.
  • Kekuatan tusuk kelas 401> 301.

Kelebihan:

  • Konsumsi jumlah benangnya 2x lebih banyak dibandingkan tusuk kunci ganda.
  • Jika menggunakan kain tenun yang tipis, bagian bawah jahitan akan terlihat tebal.
  • Jika ada jahitan yang terloncati, maka rangkaian jahitan bisa terbuka dengan mudah.

Penggunaan: disesuaikan dengan jenisnya. Contoh: tipe 401 lebih cocok digunakan untuk membuat jahitan panjang di jeans dan celana. Sementara tipe 406 & 407 digunakan untuk membuat ikat pita/kepang di bahan yang elastis seperti sweater.

Kelas 500- Overedge Chain Stitch (Obras)/Jahitan Overlock

Terbentuk ketika satu atau lebih set benang jahit mengelilingi tepi kain. Mesin obras ini biasanya dilengkapi dengan pisau pemangkas sehingga tepian kain bisa dipotong lebih rapi sebelum mulai dijahit. Lebar jahitan yang dihasilkan dari mesin ini bervariasi, mulai 3-5 mm.

Obras lebih sering digunakan untuk: lubang lengan kemeja kain rajut, inseam & outseam celana, menggabungkan lengan bagian samping, keperluan dekoratif, menjahit pakaian olahraga agar lebih kuat.

Keunggulan: elastisitas jahitannya lebih tinggi sehingga tidak mudah terurai ketika benang putus.

Kekurangan: rentan terhadap seam grinning dan hasil jahitan agak tebal karena konstruksinya yang rumit.

Kelas 600- Covering Chain Stitch (Jahitan Rantai Penutup)/Flatlock Stitch

Jenis jahitan yang terbentuk oleh 3 set benang jahit (jarum, looper, dan spreader). Merupakan jenis-jenis jahitan tersulit dan terumit dibandingkan jenis lainnya. Bahkan, totalnya ada 9 benang termasuk 4 jarum yang digunakan untuk menghasilkan jahitan ini.

Tusuk tipe 602 merupakan tipe subkelas yang paling umum digunakan. Sering diaplikasikan untuk mengikat renda, benang jalinan, dan jahitan elastisitas ke kain rajut. Sementara itu, tusuk tipe 606 dapat digunakan untuk menjahit pakaian rajut dan dekoratif.

Kelemahan: rumit dan butuh hingga 9 benang.

 

Nah, itulah beberapa jenis-jenis jahitan berdasarkan standar ISO 4915-1891. Semoga pembahasan diatas bermanfaat ya!